Kerikil Kecil
Banyak
orang yang mengatakan bahwa masa-masa di SMA adalah masa yang paling
membahagiakan. Banyak dari mereka yang telah lulus dari bangku SMA sangat ingin
mengulang kembali kejadian kejadian lucu dan bersejarah yang mereka alami di
bangku SMA.
Namun
dibalik itu semua, masa SMA juga merupakan masa dimana kita sudah seharusnya
belajar untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik. Manusia yang sudah
berfikir jauh lebih matang. Baik secara jasmani maupun rohani.
Tuhan
pun tak segan memberikan kerikil kecil di perjalanan kita untuk menjadi manusia
yang utuh, atau bahkan kadang bukan hanya kerikil namun bongkahan batu yang
besar dan sangat berat yang harus kita lewati. Namun kalian harus yakin bahwa
segala cobaan yang Allah, Tuhan Yang Maha Esa berikan adalah pelajaran bagi
kita(remaja) untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Diantara
banyak kerikil yang menggelitik perjalanan kita untuk menjadi seorang manusia
yang utuh, aku punya satu. Satu kerikil yang kemudian berubah menjadi bongkahan
batu besar yang kutemui di masa SMA ini.
Sejak
lahir kita sudah diciptakan untuk bersosialisasi dengan orang lain,
dan
ketika duduk di bangku SMA pun kita sudah lebih dari pandai untuk
bersosialisasi dengan orang lain tentunya.
Teman
bahkan sahabat bisa kita temukan dimanapun, termasuk di SMA...
Namun,
apa
jadinya ketika teman yang kalian fikir
sahabat kalian, dan teman yang telah
kalian berikan kepercayaan 100% itu tidak pernah menganggap kalian sebagai teman
ataupun tsahabatnya sendiri? Atau bahkan lebih parahnya kalian justru dianggap
sebagai musuh...
Sakit? pasti.
Kepercayaan
yang telah kamu bangun dan kamu jaga agar tidak sedikit pun rusak tiba tiba
roboh dan hancur, seketika tertiup angin. Angin? Iya, angin. Kepercayaan memang
sangat rapuh, angin saja dapat merobohkan nya.
Semuanya
akan terasa lebih pahit ketika kalian mengetahui kebenaran itu lewat orang
lain. Dan semakin hari kerikil kecil itu tumbuh menjadi batuan yang kokoh.
Semakin
hari, semakin kamu memperhatikan perilaku sahabat mu itu akan semakin tampak
bukti bahwa sahabat yang selama ini kamu anggap sahabat ternyata hanya orang
lain yang menganggap mu orang yang rendah.
Bingung,
'ntah aku harus percaya kepada siapa di situasi seperti ini.
Maaf jika aku mengeluh. Memang kenyataannya semakin aku mengeluh
masalah ini malah terlihat semakin nyata adanya dan bukan malah menjauh.
Mengeluh malah akan membuat aku semakin lemah dibuat oleh keadaan ini.
Hati ini rasanya perih teriris, geram teramat sangat, mengetahui
teman yang selama ini aku anggap sebagai sahabat malah berbalik arah menjadi
musuh. Marah karena tersakiti, dendam karena terkhianati.
Namun apa gunanya aku menyimpan amarah dan dendam ini.
Aku pernah membaca dari suatu artikel..
"Menyimpan amarah dan kesal di dada itu tidak jauh berbeda
dari menebar racun di dalam tubuhmu. Sesaat kamu akan merasa baik-baik saja,
tapi ia pelan-pelan menemukan jalan untuk membunuhmu"
Aku harus berdamai dengan kekecewaanku, menerima keadaan ini.
Menghadapi masalah ini sendiri.
Aku harus berusaha mengurai benang yang sudah kusut ini sendiri,
karena hanya aku yang bisa menyelamatkan diri ku sendiri dari masalah ini. Aku tidak
bisa terus menerus mengutuk masalah ini, mencaci makinya tanpa kedewasaan yang
harusnya sudah ku miliki.
Aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku pada keadaan, temanku,
dan diriku sendiri.
Aku tidak bisa menyalahkan keadaan terus menerus,
Aku tidak bisa memaksakan teman-temanku yang sudah menganggap aku
musuh mereka untuk mempersilahkan aku menjadi bagian dari mereka(lagi)
Aku juga tidak bisa merubah diriku seperti yang mereka inginkan hanya
untuk menjadi bagian dari mereka(lagi)
Aku harus bisa....
mengikhlaskan segala sesuatunya,
mengahadapi masalah ini sendiri dan sebaik mungkin yang ku bisa,
menganggap masalah ini sebagai salah satu proses belajarku menuju
kesuksesan.
Dan aku harus bisa..
menemukan mutiara dibalik tumpukan mawar berduri ini, menemukan
hikmah dari segala masalah yang Allah berikan ini.
Mengikhlaskan segalanya adalah kunci dari masalah ini.
Dan,
kini aku mengerti bahwa kehidupan
terdiri dari dua komposisi bumbu : yaitu manis dan pahit. Dan aku akan
berhadapan dengan mereka berdua secara bergiliran, dan aku yakin disetiap bumbu
kehidupan yang ku jumpai nanti, Allah pasti akan memberi kita pelajaran, hikmah
yang bisa kita jadikan guru bagi diri kita sendiri.
Ya, kini aku cukup..
berusaha sebaik mungkin menjadi diriku dalam
mengahadapi semua kerikil kecil yang kian menggelitik masa SMA ku ini,
tidak pernah lelah untuk terus mencari
mutiara yang Allah sembunyikan di setiap perjalanan ku ini yang akan
dipertemukan dengan dua komposisi bumbu kehidupan,
dan tidak lupa untuk menikmati perjalanan panjang
ku yang akan diwarnai oleh kelitikan dari kerikil kecil ini atau bahkan..
bongkahan batu besar.
PS: Maaf artikel ini terlihat seperti menggurui tp bukan itu kok
maksudnya, hanya untuk sharing aja. Hehe, thank you:)

Comments
Post a Comment